The Journey

Ilustrasi 'journey of self-growth' dalam personal storyline selama mengikuti rangkaian program Karmarati. Informasi yang dimuat dalam ilustrasi telah mendapatkan persetujuan dari sumber yang bersangkutan.

IMG_6268.JPEG

Journey of Gentleness

A storyline of JCS (not her real name and we respectfully request for her full consent for the publication of this personal progress).

The story is taken from her experience throughout 2019 - 2022 as a participant in KARMARATI online programs, namely Righteousness & Observation; Image, Intuition and Mature Understanding; Co-Creating with The Sacred; Grief & Anger Talk; Managing Attachment to Past Memories; Iceberg Coaching; Group Mentoring and Intuition Lab.

2019

September

(assumption, perception and expectation)

Aku menyadari bahwa ternyata hanya aku yang aware atas sebuah ekspektasi dan menurutku power-nya ada di orang lain. Sementara orang lain tidak tahu atas ekspektasi tersebut. Jadi ini kisruh yang dibuat sendiri, ya!

(catatan mengenai proses observasi)

Proses ini menciptakan kesadaran untuk tidak terlalu keras sama diri sendiri saat merasa belum "berhasil" atau belum "sukses" bertransformasi. Fokusnya bukan pada tolak ukur sukses itu seperti apa tapi bagaimana menjalani proses observasi sekarang ini.

(penemuan terkait humility)

Membuka diri terhadap berbagai possibilities dan opportunities setelah menentukan suatu pilihan/keputusan. Membuka diri bahwa pilihan/keputusan saya mungkin berubah di kemudian hari. Segala sesuatu adalah proses, tidak final. Dan berubah itu tidak apa-apa, bukan berarti plin plan atau mudah terombang ambing.

Januari

(intuition & cycles

Aku menyadari dalam beberapa hari belakang aku mendapatkan jawaban atau tanggapan atas sesuatu hal yang sedang dipikirkan dengan sangat cepat. Begitu banyak kebaikan, hoki, dan berkat yang muncul berturut-turut. Luar biasa sekali.

Tapi di satu sisi muncul rasa takut dan kekuatiran, "Apakah ini akan berakhir?". Atau lebih buruknya  apakah ini akan berubah menjadi suatu unfortunate event?

2020

Februari

(fear, distraction, judgment dan personal story)

Fear membuatku terikat dengan orang lain dan muncul dari judgment 'me against the world'. Sulit melihat harmoni, selalu bermusuhan. Distraction-nya adalah keterikatan (attachment) itu sendiri, fokus keluar, bukan berbenah diri sendiri. Karena proses ini tidak nyaman dan menurutku perlu usaha besar.

 

Selain itu, ada judgment ke diri sendiri bahwa tidak punya personal power, sehingga merasa selalu perlu orang lain.

Maret

(fear in decision making)

Aku merasa aku mudah affected terhadap emosi marah dan kecewa dan sering tidak tahu bagaimana mengatasinya. Aku merasa ini masalah survival dan aku memilih untuk “menyelamatkan diri”. 

Selalu dihadapkan pada dilema antara harus dihadapi dan jangan kabur dengan be easy with yourself, don’t push too hard, terima dulu bahwa sekarang belum bisa. Apakah sebenarnya ini whirlpool dan aku sendiri yang membesar-besarkan? Apakah prioritasnya balance atau trust? Apakah aku tidak punya kepercayaan diri yang cukup dan percaya bahwa aku bisa?

(fear, indulgence, compassion and intuition)

Semuanya saling mempengaruhi. Saat intuisi datang, fear sering muncul dan mensabotase, logika yang seringnya menang. Fear itu seringkali adalah ilusi, dari trauma masa lalu yang sebenarnya sekarang sudah tidak terjadi lagi. Lalu melarikan diri ke indulgence karena itu membuat saya tidak merasakan ketidaknyamanan ini dan lupa sama fear. Indulgence yang sering muncul adalah my dependency to others, sulit untuk contain sendiri. Yang membantu meredakan adalah compassion terhadap diri sendiri, yaitu mengakui bahwa saya takut, saya tidak nyaman, saya merasakan emosi yang tidak enak ini, give myself time (be patient to myself) to experience by pausing and breathe, biasanya ditambah juga minum air putih yang banyak.

 

It's okay that I'm feeling all this uncomfortable situations and I'm still okay physically and mentally. I have options, the power is in my hand to choose my actions and reactions. Saat inilah sebenarnya intuisi bekerja dan mengambil alih.

Mei

(temptation, indulgence and addiction)

Latihan setiap hari membuat saya tidak mudah tergulung, lebih cepat menyadari, dan keluar dari siklus temptations and indulgence. Membantu lebih efisien dalam membuat keputusan dan move on.

 

Kadang diturutin sih temptation-nya tapi sesuai proporsi saja, lalu kembali ke pekerjaan awal.

Juni

(relationship with shadow self)

The demon adalah diri saya sendiri, diri saya yang terluka dan trauma. Sepanjang mengikuti proses, kami menjadi satu, being of light, tidak lagi terpisah. 

Dengan disiplin berlatih, memaafkan diri sendiri, memberikan reward dan mengijinkan diri merasakan puas atas pencapaian-pencapaian kecil, saya bisa melampaui my own demon dalam menjalani cita-cita dengan fokus dan keyakinan diri yang sehat.

Juli

Beberapa hari belakangan saya baru sadar betapa saya memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap diri sendiri. Sudah sekian lama berlatih dengan begitu banyak tools dan knowledge, tapi kok tiap hari ada aja “menyimpangnya”, kok hidupnya nggak “lurus” dan jadi orang yang “suci” ya? 

Maka untuk sekarang saya merasa latihan yang paling kena adalah patience. Sabar terhadap diri sendiri tiap detik, karena tantangannya muncul tiap detik dari dalam diri sendiri, si small self ini.

Oktober

(mengenai perasaan 'kehilangan')

Saya menyadari bahwa banyak grief dalam chapter hidupku yang belum diproses, lewat begitu saja karena sepertinya sangat remeh dan life must goes on. Tapi ternyata membekas dan menyetir hidupku.

Saya cukup kaget atas kesadaran ini. Termasuk juga beberapa hal yang dilakukan secara otomatis, seperti hal-hal kecil yang sepertinya adalah my coping strategy dalam menghadapi perasaan kehilangan ini.

(pengalaman melepaskan keterikatan)

Jujur saya merasa akan sulit melepaskan attachment sepertinya karena memang jadi victim itu enak. Pointing fingers dan menyalahkan orang lain itu memberikan 'feel good feeling' karena aku merasa sebagai orang yang lebih baik.

Who am I without attachments? Agak panik mau mencari pegangan karena merasa asing dengan rasa yang muncul dan menimbulkan rasa takut.

2021
2022

Januari

(latihan 'claiming' dalam membuat gratitude statements)

My ​​Gratitude Statements

"Saya bersyukur berkesempatan untuk merasakan emosi-emosi ini."

"Saya bersyukur dapat memberi kesempatan untuk mengeksplorasi cara-cara managing mood saya."

"Saya bersyukur memiliki waktu dan tempat untuk mendengarkan emosi saya."

(isu dalam membuat gratitude statements)

Saya mengalami kesulitan dalam membuat gratitude statements, dimana salah satu penyebabnya adalah sulit memaafkan diri sendiri. Sehingga seperti self-sabotage setiap mau bersyukur.

September - Oktober

(pengalaman dalam group mentoring - unpacking and redirecting belief)

Saya mengenali lebih dalam mengenai excuses yang menghambat dan membuat vicious cycle, sulit keluar, terjebak di dalamnya dan menjadi victim. Tapi dengan belajar menggunakan tubuh sendiri, saya melatih dan menumbuhkan kepercayaan bahwa tubuh selalu bisa diandalkan.

Taking care of the body is the most important thing dan  dapat dilakukan melalui latihan-latihan sederhana, bukan sesuatu yang muluk-muluk atau grande tapi tetap memberikan dampak yang mengena dan mendalam.

Februari

(awareness dalam latihan terkait sensitivitas fisik dan emosional)

Saya mengenali saat sedang ter-trigger sesuatu dan tersedot ke dalam pusaran emosi-emosi.

 

Mendengar suara-suara di kepala dan mulai bisa membedakan, seperti berbeda-beda orang yang bicara. Kadang gantian, kadang bersamaan.

 

Mata sensitif terhadap cahaya sehingga mudah pusing, buram, silau. Serba salah. Sering membuat frustrasi karena tidak tahu harus diapain.

(awareness mengenai diri sendiri)

I come to acknowledge that I may feel not ok. It maybe uneasy and uncomfortable, but I choose to stay with it, feeling it, experiencing my body, my emotions, my thoughts.

Juni - Juli

(pengalaman mengikuti iceberg coaching)

Sebelumnya saya merasa sudah mendengarkan diri sendiri dengan baik, tapi ternyata belum sampai ke dasar apa yang sebenarnya saya butuhkan dan belum terpenuhi. 

Saya mulai membuka diri untuk mengakui bahwa saya memiliki perasaan kekurangan, melihat bagaimana fear memberikan benefit bagi saya: bukan hanya fokus menaklukan fear, tapi belajar me-manage dengan lebih gentle. Bagimana berkomunikasi dengan diri sendiri dengan lebih lembut, bernegosiasi, sabar, compassionate dan menyenangkan.