To Live Is To Integrate

Mari kita bercerita mengenai comparison, ekspektasi, dan judgement mengenai diri kita sendiri. Comparison atau membandingkan ini terjadi karena kita adalah mahluk sosial dan kita melihat diri kita sekarang berbanding dengan dulu dan berbanding dengan orang lain. Kemudian tiba pada judgement mengenai apakah saya ini sudah melakukan hal yang terbaik, apakah saya mempunyai arti, tujuan, atau misi yang memuaskan. Juga kehadiran ekspektasi bahwa seharusnya saya sudah mencapai tujuan tertentu atau berbentuk pertanyaan mengapa saya masih disini-sini saja.


Ini semua adalah produk dari pikiran yang merasa kurang, dimana manusia bertumbuh dan berkembang dimulai dari perasaan ingin memperbaiki sesuatu. Tapi jika secara konstan merasa kurang karena membandingkan maka sebetulnya ada perasaan kekurangan yang mendasar.

Jadi apa basic needs yang belum terpenuhi di kita sehingga kita terjebak dalam penilaian-penilaian ini secara konstan?

Apabila terjebak atau terbersit pikiran mengenai apa yang bisa saya lakukan lebih baik, itu adalah pertanyaan untuk ‘growth’, tapi jika berputar-putar merasa tidak puas dan self judging berarti ada sesuatu yang lebih mengganggu daripada apa yang terlihat di permukaan, yaitu sesuatu perasaan yang sangat kekurangan di dalam diri. Ini biasanya diliputi oleh perasaan takut, ‘takut tidak berarti.’





Satu hal yang dikemukakan dalam program Righteousness and Observation adalah observasi mengenai ‘where we are’ tanpa menempatkan diri di polar ekstrim kiri atau kanan. Dan kemudian kelanjutan dari program tersebut adalah program yang bersifat integratif. Di dalam teks atau kampanye well-being satu hal yang sering diangkat adalah ‘balance’ dan seolah-olah tujuan dalam hidup adalah untuk seimbang. Tapi kemudian balance ini sendiri sering dirancukan dalam polaritas bahwa artinya selalu melihat adanya ekstrim kiri dan ekstrim kanan, kemudian kita perlu mencari tengahnya, di situlah keseimbangan berada.


Beyond that, in the mindfulness world and in a deeper awareness state ada hal yang lebih tepat, yaitu integrasi. Bagaimana kita mengintegrasikan situasi mental dengan situasi spirit, atau emotional dengan spirit, karena di dalam spirit itu sebetulnya semuanya sudah ada, sudah terpenuhi dan sudah cukup.

Tapi di dalam dunia fisik, mental dan emosional ini selalu ada dualitas, bahwa ada yang kecil dan besar, baik dan buruk, benar dan salah, dan lain sebagainya. Ini yang membuat kita tertarik pada satu arah tertentu tanpa memiliki banyak kesempatan untuk mempelajari keahlian mengintegrasi the shadow in ourselves. Karena kita tidak selalu punya kecenderungan terang, kita juga mempunyai sudut-sudut atau bagian-bagian yang gelap, layaknya dunia ini tidak mungkin berfungsi siang terus atau malam terus.


Jika kita mampu melatih integrasi secara rutin, maka hal-hal yang tidak memuaskan berdasarkan perbandingan ke luar dan penghakiman ke diri sendiri perlahan akan berkurang. Dan kita juga akan memiliki kemampuan bersahabat dengan waktu, karena waktu juga merupakan salah satu alat untuk integrasi, jadi tidak bisa semua mau sekarang tapi tidak hidup di waktu sekarang.


The urge to instantly want the outcome to arrive right now is not living the present, instead we want the future to come now. Jadi memang tidak mengintegrasikan langkah-langkah yang ditawarkan oleh present time. ‘Sekarang’ itu ingin segera tahu, lihat, mengerti semuanya secara total, maka kita menyingkatkan langkah dan itu bukanlah proses integrasi, itu adalah proses akselerasi ego yang selalu ingin memberikan kepastian, pemenuhan, kepuasan pada kebutuhan-kebutuhan dasar yang kita tidak bisa penuhi sendiri.


So, the journey to develop the skill to integrate in a daily cycle and how to live with that is the highest art of living in this world, in my opinion.


Related article The Time of The Universe


14 views0 comments

Recent Posts

See All